Mariberharap buku itu akan benar-benar mampu memberikan masukan dan inspirasi kreatif dan inovatif bagi desainer, industri mode, dan masyarakat secara umum. "Pemanfaatan kekayaan budaya lokal dalam dunia mode akan membuat Indonesia semakin dikenal karena keunikan dan keunggulan di bidang 'craft fashion' di mata dunia," ujarnya.
2 Fiksi adalah suatu karya sastra yang dibuat berdasarkan imajinasi semata dan tidak berdasarkan data yang otentik. 2.2 Spesialisai Pengertian Non Fiksi (kreatif) Nonfiksi adalah karya sastra yang dibuat berdasarkan data - data yang otentik saja, tapi bisa juga data itu dikembangkan menurut imajinasi penulis.
SEMINARNASIONAL ENVISI 2020 : INDUSTRI KREATIF 19 Santyaputri Transformasi Digitalisasi Budaya Populer dan Film Indonesia melalui pesan simbolis dan sublim, selain itu budaya populer melibatkan kelompok-kelompok orang elit yang mengendalikan mereka menggunakan media massa dan medium budaya seperti seni, film, mode dan buku.
Seorangcopywriter legendaris, Eugene Schwartz pernah berkata, "Dengarkan pelanggan dan pikirkan tentang target pasar Anda. Pelajari produk secara mendalam. Kedua hal tersebut tidak akan mengecewakan Anda.". Kadang kala, keterbatasan ide memang membuat content marketing jadi monoton dan tidak menarik. Padahal, kreativitas merupakan hal
berbasisindusti kreatif dengan jenis usaha seni budaya, dan membuat berbagai media pembelajaran berbasis usaha industri kreatif dengan mengangkat profil usaha industri kreatif dengan kearifan lokal lalu dielaborasi menjadi bagian dari modul dan perangkat pembelajaran yang dapat menciptakan lebih banyak wirausaha muda dalam bidang industri kreatif.
XhiOcRH.
ArticlePDF Available AbstractPemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Banyuwangi, misalnya, memiliki beragam seni pertunjukan dan tradisi lisan, seperti syair syair gandrung, lagulagu dalam pertunjukan angklung, cerita rakyat jinggoan, dan tradisi wangsalan dan basanan. Sampai saat ini, dinas terkait di Banyuwangi belum dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan karakteristik nilainilai kultural yang ada. Untuk itu, tulisan ini bertujuan mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal dan budaya Using. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan cultural studies, model tersebut diharapkan mampu mengembangkan industri kreatif di wilayah lokal. Abstract The Indonesian government announced the year of 2009 as the Creative Industry Year. Performing art, including oral tradition existing in performance, has become a priority which will be developed to improve the prosperity of its supporting community. This goal is representative because Indonesian people have various performing arts and local literature which, if well managed, will support the creative economy. Banyuwangi, for instance, has various performing arts and oral tradition, such as gandrung poems, songs in angklung performance, jinggoan folklores, and traditions of wangsalan and basanan. To date, the relevant services of Banyuwangi government have not been able to make policies able to support the creation of creative industry pattern of thinking, system, and practice which are locally based and keep on proposing the characteristics of existing cultural values. Therefore, this article is aimed at developing a creative industry model based on Using local literature and culture. By using ethnography method and cultural studies approach, the model is expected to be able to develop the creative industry in the local area. Key Words local literature; Using culture; creative industry; revitalization Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. SASTRALOKALDANINDUSTRIKREATIFREVITALISASISASTRADANBUDAYAUSING1LocalLiteratureandCreativeIndustryRevitalizationofUsingLiteratureandCultureNoviAnoegrajektiJurusanSastraIndonesia,FakultasSastra,UniversitasJemberJalanKalimantan37Jember,Pos‐el regional, khususnya Banyu‐wangitidakhanyaterjadipadamasape‐merintahan sekarang. Sejak 2000—2005, bupati Samsul Hadimendeklarasikan JenggiratTangiseba‐gaisebuahgerakankebudayaanpenegu‐han identitas Using sebagai masyarakatlokal. Bupati Ratna Ani Lestari 2005—2010 dengan gerakan HijoRoyoroyo,dan bupati Abdullah 2010—sekarang183 ATAVISME,Vol. sember201dengan TheSunRiseofJava.Ketigage‐rakan tersebut memperlihatkan bagai‐mana pimpinan daerah mengekspresi‐kan daya dalam ta aran16,No.2,EdisiDe 3183—1 18493 segera berubah menjadi sesuatuyangeksotisbagiorang bu t po‐litis.Kebijakan JenggiratTangi diputus‐kanmelaluiSKbernomor173tertanggal31 Desember 2002 yang menetapkan“bahwa dalam rangka mendorong tum‐buhnya semangat ikut serta memilikidaerah dengan segala kebudayaannya,yang pada gilirannya akan mampu me‐ningkatkan pembangunan di bidang ke‐pariwisataan, maka perlu adanya upayameningkatkanpromosipariwisatadiKa‐bupatenBanyuwangi.Tampak dari kon‐sideran,dua arti pentingproyekpeman‐faatan gandrung sebagai maskot. Pertama, gandrung dianggap sebagai wakilataurepresentasibudayadaerahBanyu‐wangi.Kedua, gandrung dipakai sebagaikomoditiuntukmenarikpariwisata.Posisi gandrung sebagai tanda dae‐rah Banyuwangi tersebut mengalahkantanda yang sudah berumur puluhan ta‐hun, yakni patung ular berkepala gatot‐kacayangterpajangdibanyaktempatdikota Banyuwangi termasuk di depankantor kabupaten dan pendopo tempatbupati berdomisili. Tanda ini juga telahtersosialisasi ke dalam kehidupan ma‐syarakatdanmenjadiaksesoridiataspi‐gura gong gandrung Anoegrajekti,200775.Keseniangandrung yangbagiorang Banyuwangi merupakan bagiandarikehidupansehari‐haridan ciri khasmereka,ketikamenjadi promosi pariwi‐sata, 2Proyek pemanfaatan gandrung se‐bagai maskot pariwisata Banyuwangiadalah bagian dari proyek JenggiratTangi, sebuah proyek politik yang di‐maksudkan untuk mendorong kebang‐kitandaerahdanmasyarakatnya.Selainpemaskotan gandrung, proyek ini jugamencanangkan beberapa kegiatan yanglain, seperti sehari berbahasa Usingsetiaptanggal18Desembersetiaptahunbersamaandenganhari ulang tahunBa‐nyuwangi, sepekan berbusana Using18—25Desember,danpenerbitanma‐jalah berbahasa Using. Khusus untukyangpertamadankeduahanyaberlakubagi setiap pegawai negeri maupunswastadiseluruhBanyuwangi.ProyekpolitikJenggiratTangi,yangdideklarasi‐kan pada 18 Desember 2002 ini, cukupsemarak terutama dengan pajangan‐pa‐jangan billboardbesar kecil bertuliskanJenggiratTangidibanyaktempatstra‐ dari proses elit semata, me‐lainkan juga bagaimana identitas Usingjikadikaitkandenganresponmasyara‐katdalamrealitaskekinianyangmenun‐jukkankemajemukan.Penegasanidenti‐tasUsingdanberbagaiupayakonservasigandrungberaturanbaku,baikmelaluiregulasimaupunsosialisasitersebut, se‐laindianggap kontroversi olehkalanganpolitisi, juga berlawanan dengan kenya‐taan bahwa pertunjukan gandrung bu‐kansajatidakmempertimbangkantra‐disid Uanidentitas singtetapitelahmen‐jadipasar,terbuka,dan gandrung saat ini me‐nunjukkan bahwa kesenian ini telahmengalami perkembangan yang sangatjauhseiringdengandinamikakomunitasUsingitu sendiri.Pertunjukan gandrungseperti halnya kesenian tradisi lain, bu‐kan saja menjadi profan dan murni hi‐buran melainkan juga berinteraksi dansaling memengaruhi dengan kesenian‐kese nianlaintermasukdengankesenianpopulersepertidangdut.SelainkesenianGandrung,masyara‐katUsingdiBanyuwangi memiliki bera‐gamsenipertunjukandantradisilisanyang sampai saat ini masih eksis, misallagu‐lagu dalam pertunjukan angklung,ceritarakyatdalamjinggoan,dantradisiwangsalandanbasanan.Sastralokalda‐lam seni pertunjukan tersebut RevitalisasiSastradanBudsebenarnya bisa menjadi penopang pe‐ngembanganindustrikreatif.Sampaisa‐atini,dinasterkaitdiBanyuwangibelumbisamembuatkebijakanyangbisamen‐dukungterciptanyapolapikir,sistem,dan praktik industri kreatif berbasis lo‐kalitasdantetapmengedepankankarak‐terisailagudansinema og afi,ke ajinan,dandesain.Tomic‐Koludrovic & Petric 2005menjelaskan bahwa era kontemporermenunjukkan kecenderungan lahirnyabeberapaistilahterkaitkreativitas,yakni“kota kreatif”, “kelompok kreatif”, “eko‐nomi kreatif”, “kelas kreatif”, “pekerjapengetahuan”,maupun “kelasberpengetahuan”yang semua itu lebihsesuaidibicarakandalamduatermauta‐ma industrikreatifdanekonomikreatif.Artinya, berdasarkan pengalaman nega‐ra‐negaraEropaTenggara,industrikrea‐tifyangbisamengembangkandanmem‐berdayakan kreativitas individual mau‐pun kelompok masyarakat, pada dasar‐nya,bisamendorongdan mengembang‐kanekonomi kreatif;sebuah sistemdanprakya...NoviAnoegrajekti185tik nilai‐nilai kultural yang adaAnoegrajekti,2010.Tulisan ini bertujuan untuk menje‐laskanbagaimanaindustrikreatifberba‐sissastralokaldanbudayaUsingdikem‐bangkan.Denganmetodeetnografisdananalisis culturalstudies, model tersebutdiharapkanmampumengembangkanin‐dustrikreatifdiwilayahlokal.TEORIIndustri kreatif merupakan salah satukonsep yang paling banyak diperbin‐cangkandi kalangan akademisimaupunpembuat kebijakan akhir‐akhir ini. Ke‐tika peningkatan industri dan ekonomiberbasis sumberdaya alam semakinmendapattantangan karena keterbatas‐an bahan, industri kreatif berbasis pe‐ngetahuan dan talenta kreatif menjadipilih aan paling masuk kal untuk meng‐gerakkanekonomi.Konsep industri budaya merujukkepadaindusriyangmengkombinasikankreasi,produksi,dankomersialisasikon‐ten‐konten kreatif yang bersifat intangibledan kultural. Konten‐konten terse‐but secara tipikal dilindungi oleh copyrightdanbisaberbentukindustribarangmaupun jasa. Industri budaya secaraumumberbentukpercetakan,penerbit‐andanmultimedia,audio‐visual,pro‐duks t r rtik ekonomi yang lebih mendasar‐kankepadakreativitasdanpengetahuan.Industribudayamemanglebihdi‐gerakkan oleh para pemodal/perusaha‐an besar yang mencari keuntungan me‐laluisistemindustribudayadengancaramemproduksi dan mendistribusikanproduk budaya secara nasional ataubahkaninternasionalyangdidalamnyaterdapat keseluruhan organisasi yangterlibat dalam proses penyaringan pro‐duk‐produkdanide‐idebaruyangber‐asal dari personel kreatif yang beradadalam level subsistem Granham dalamSariono,etal, 2009. Sementara,konsepindustri kreatif menekankan pada ting‐katanyanglebihluasdariaktivitasyangtermasukdidalamnyaindustribudayadan semua produksi kultural atau artis‐tik, baik yang bersifat liveseperti senipertunjukan maupun yang diproduksiolehunit‐unitindividual.Maka,industrikreatif secara umum mencakup penye‐diaanprodukataujasayangjugamemu‐atelemen‐elemensubstansialdariusahakreatifdanartistik.METODESebagaipersoalankebudayaan,sastralo‐kaldanindustri kreatif dalam kaitannyadengan revitalisasi sastra dan budayaUsing dikaji secara etnografis denganmemusatkan perhatian pada sistem pe‐ngetahuan yang dimiliki subjek dan ba‐gaimana pengetahuan itu diorganisasi‐kan untuk menentukan tindakan. Selainitu, metode etnografi digunakan untukmenemukan bagaimana masyarakat ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember20mengorganisasikanbudaya dalam pikir‐anmerekadankemudianmenggunakanbudaya tersebut dalam kehidupannya.Pendekatanini lebih bersifatholistik‐in‐tegratifdalamrangkamendapatkannative’spointofview.Data primer maupunsekunderakandikumpulkandenganwa‐wancara mendalam indepthinterview,pengamatan terlibat participantobservationdanpelacakan dokumen tertulis.Spradley 1997118; Barker, 200027menyebut analisis etnografi sebagai pe‐meriksaan ulang terhadap catatan la‐panganuntukmencarisimbol‐simbolbudaya yang biasanya dinyatakan de‐nganbahasaaslisertamencarihubung‐an antarsimbol. Metode interpretasi di‐pergunakan untuk mengakses lebih da‐lam terhadap berbagai domain yang di‐alamiahkan dan aktivitas karakteristikpelakuyangditelitiSebuahanalisisetno‐grafis, seperti yang dikatakan Spradleyberangkatdarikeyakinanbahwase‐orang informan telah memahami se‐rangkaian kategori kebudayaannya,mempelajari relasi‐relasinya, dan me‐nyad m h ng13183—1 18693merepresentasikan Using, bahkanBanyuwangi.Identitas kultural selalu dikaitkandenganhibriditasdandiaspora.MenurutHall 1997; Melani, 200538 identitasbukanlah esensi, melainkan sejumlahatribut identifikasi yang memperlihat‐kan bagaimana kita diposisikan danmemposisikan diri dalam masyarakat,karenaaspekbudayadankesejarahanmerupakan keniscayaan. Hall menekan‐kan bahwa identitas sebagai suatu pro‐duksi yang tidak pernah tuntas, selaludalamprosesdanselaludibangundalamrepresentasi.Identitastidak bersifatsta‐tis, selalu dikonstruksikan dalam ruangdan aktu, serta bersifat kompleks danmajemuk.ari atau engetahui ubu an de‐ngankeseluruhannya.Identitas menurut Hall 1993menghubungkan representasi denganpolitik. Politiklah yang membuat kartupos pemandangan dan penari Bali bisadianggapmerepresentasikanBali.Halinidapat diidentikkan bahwa politik kebu‐dayaanyangdapatmembuatsastralokaldalamsenipertunjukanBanyuwangida‐patwHASILDANEMBA ASANSiapaOrangUsing?Masyarakat Using adalah pendudukawal Banyuwangi dengan klaim sebagaietniktertentuyangditandaiduahal.Per‐tama, mengalami sejarah penindasandan penaklukan yang panjang oleh ke‐kuatan‐kekuatan politik Majapahit, De‐mak,Buleleng,danBelanda,bahkanJa‐wakontemporermemarginalisaside‐ngan stereotipe dan stigma. Oleh sebabitu,populerdikalanganelitemerekase‐buah ungkapan resistensi ”bukan Jawadan bukan pula Bali” dari segi bahasamaupun adat‐istiadat. Kedua, dalam se‐jarahnya yang panjang pula, mereka te‐lah mengalami kehidupan bercampurdengan etnis‐etnis lain yang berdatang‐andariberbagaidaerahdiJawa,Madura,Bali,danSulawesiSelatanbaikbersama‐an dengan pembukaan perkebunan Be‐landadiawalabadke‐20maupundima‐sasesudahnya. Dalam konteks kehidup‐anekonomidanpolitik,komunitasyangsebagianbesarbermatapencaharianpe‐tani ini tampak menempati posisi pojokyangP Haksesnyaterhadapsumber‐sumberekonomidankekuasaanrelatiflemah.Mayoritas mereka beragama Islamsinkretikdan hanyasebagiancenderungmenjadi Islam ortodok‐puritan, tetapijustruyangterakhiritulahyangmem‐perlihatkan otoritas lebih kuat. Sepertihalnyakesenian‐keseniantradisiditem‐pat lain, gandrung merupakan kesenianyang didukung dan dimiliki oleh danmenjadi bagian penting dari hidup dankehidupan komunitas Using Banyu‐wangi.Sebuah komunitasetnik yangdi‐kenal sebagai penduduk paling awaldaerah itu dan sekarang menyebar di RevitalisasiSastradanBudbeberapakecamatanbercampurdengankomunitas lain seperti Jawa, Madura,Bali, angaya... CirikhaskarakteristikbudayaUsingyang menonjol adalah sinkretis, yaknidapat menerima dan menyerap budayamasyarakat lain untuk diproduksi kem‐balimenjadibudayaUsingSingodimayan,1999.Selainitu,budayaUsingjuga akomodatif terhadapkekuat‐ansupranatural,gaib,danmagis.Haliniterlihat dalam sinkretisme agama Islamdengankepercayaananimisme‐dinamis‐me yang terakumulasi dalam keyakinanterhadapdhanyang, seperti dalam ritualSeblang, Barong, dan Kebo‐keboan. Se‐dangkansinkretisme dalam dimensi ke‐senian tampak dalam seni Hadrah Kun‐tulan yang memadukan seni Islami de‐ngan anggapan tabu penari perempuanSaputra,201130.NoviAnoegrajekti187dan etnik pendatang lain yjumlahnyasangatkecil.Masyarakat Using mempunyai pe‐ngalaman sejarah yang berbeda dengankomunitas‐komunitas lain di Banyuwa‐ngiterutamaberkaitandengankekuatanpolitikkerajaandimasalalusepertiDe‐mak,Mataram,danBuleleng.Merekase‐lalu menjadi objek penaklukan baik un‐tukkepentinganperluasan wilayah, mo‐bilisasikekuatanmassa,kekuataneko‐nomi, maupun pengaruh kultural yangsemua itu diperlukan oleh kerajaan‐ke‐rajaanbesartersebut.Sebuahpengalam‐an sejarah yang membentuk sistem bu‐daya Using yang kini mengakar dan di‐artikulasi dalam kehidupan sehari‐haribaik dalam kehidupan kolektif sesamamerekamaupun dalam interaksinya de‐ngankomunitaslain. Sebagai komunitasyangtidakekslusif,masyarakatUsingberinteraksi secara intensif dengan ko‐munitas‐komunitas lain di Banyuwangibaik dalam kehidupan sosial politik,ekonomi,maupunbudaya.Suatupe‐ngalaman interaksi yang memengaruhisistemnilai dan tatananhidup yangadaataubahkanmelahirkanyangbaru.Dalam hal kepribadian, karakteris‐tikorangUsingberbedadariorangJawa.Menurut Singodimayan kepribadianorangUsingtidakbersifathalus atau to‐leransepertiorangJawa,melainkanber‐sifataclak,ladak,danbingkak.Aclakber‐artisokinginmemudahkanoranglain,atau sikap yang memosisikan diri seba‐gai sok tahu. Ladaksikapyangmenun‐jukkan kesombongan dengan cara ber‐canda. Sedangkan bingkakberartiacuhtak acuh dan kurang peduli. Karakteris‐tik ini pun berlanjut pada penggunaanbahasapergaulanyangseringmenggu‐nakankata‐kata ABCasu, babi, celeng.Penggunaankatatersebutbukansebagaikemarahan melainkan sebagai relasipersahabatan.SyairdalamPertunjukanGandrungdanAngklungRepresentasiIdentitasUsingAntusiasme birokrasi dan seniman‐bu‐dayawan Dewan Kesenian Blambanganyangmeningkatsejaktahun 2000 mem‐buatpertarunganberbagaikekuatanter‐hadapgandrungsemakinseru.Gan‐drung, dalam pandangan kelompok inimerupakan kesenian yang mengandungnilai‐nilaihistoriskomunitas Using yangterus‐menerusadadalamposisitertekansecarastrukturalmaupunkultural.Seni‐man dan budayawan Dewan KesenianBlambangan memperlihatkan penegas‐annyabahwagandrungadalahrepresen‐tasiidentitasUsingyangtertekandanmelawan. “Pertunjukan gandrung tidaklainadalahgambaranperlawanankebu‐dayaansebuahmasyarakatUsing.Per‐lawanan terhadap berbagai ancaman,baikyangbersifatfisikmaupunpencitra‐annegatif yangberulang kaliterjadi da‐lam kesejarahan masyarakat Using.”Singodimayan,etal,2003.Merekaper‐cayadanselalumengkampanyekanbah‐wapertunjukangandrungsebelumkese‐nianitumemasukimasavakumditahun1966 sering disebut merupakan ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember20ungkapansejarahpenindasandanperla‐wanan komunitas Using. Bahkan untukmelestarikangandrungsepertiitumere‐ka memproduksi berbagai regulasi danupaya‐upayasosialisasisepertipelatihanpenarigandrungsecarareguler,danfor‐malisasi tradisi merasgandrung. Secaraeksplisit,berbagaiupayakonservasi tra‐disi itu mereka ungkapan untuk “me‐nam13183—1 18893dicatatdandidokumentasidalamingatandanhafalangenerasiberikutnya.Selainsyairtradisiyangpakem,sya‐ir kontemporer Using banyak ditemuidalamseni KendangKempulantaralain“UlanAndhung‐andhung”,“KembangPe‐thetan”, “Gelang Alit”, “Kantru‐kantru”,“CemengManggis”, “LancingTanggung”,dan “Lali‐lalian.” Sedangkan syair‐syairklasikUsingbanyakdimanfaatkandalamgending‐gending ritual dan juga diman‐faatkansebagaipropagandasimbolikda‐lam gerakan perjuangan melawan kolo‐nial, seperti “Padha Nonton”, “SeblangLukipilkan identitas Using” di tengahpertarunganyangsemakinglobal.Sejumlah seniman‐budayawan baikdi Dewan Kesenian Blambangan mau‐pun masyarakat memandang bahwa la‐gu“PadaNonton”mengandungpesan‐pesan perjuangan rakyat Blambangan.FatrahAbal menerangkan bahwadalamtampilanyang paling ekplisit lagu terse‐but adalah irama vokal untuk memberipenghormatan kepada tamu, tetapi jugasecara simbolis mengandung maknaperjuangan. Tim dari Yayasan Kebuda‐yaan Banyuwangi5 berpendapat bahwa“Pada Nonton” adalah sebuah sindiranterhadap pembuatan jalan tembus keBanyuwangi menyambung jalanDeandels yang berujung di Panarukan,atau peristiwa pembuatan terowongankereta api Merawan yang mengakibat‐kanr lambanganakyatB harusmenerimakerjapaksa.Bahkan ada juga yang menafsirkantentang para pembesar yang mengham‐burkan hawa nafsunya dengan para pe‐rempuan Blambangan. Oleh karena itu,menurutFatrahAbal,“PadaNonton”bu‐kansaja dipandangsebagai sebuahlaguyang dinikmati tetapi juga merupakansejarahperjalananmasalaluorangUsingyang nta”,“SekarJenang”,dan“KembangPepe.”Gandrungtampaknyamemangsulitmelepaskan dari perhatian pihak luar.Beberapakekuatanyangbertumpupadadukungan massa seperti partai politikselalu merengkuhnya. Pada dasawarsa50‐an ketika pertarungan antarpartaipolitik sangat ramai dan meluas, gan‐drung diperebutkan terutama oleh Par‐taiKomunis Indonesia PKI melalui or‐gannya, Lembaga Kebudayaan RakyatLekradanLembaga Kebudayaan Nasi‐onalLKNmilikPartaiNasionalIndone‐siaPNI. Gandrung,seperti halnyaang‐klung,dimanfaatkanolehLekramaupunLKN untuk memobilisasi massa pendu‐kungnya masing‐masing secara terusmenerus, tidak hanya ketika partai‐par‐taiitumemerlukandukunganpraktisse‐pertiPemilusebagaimana kecenderung‐anpartaipolitiksekarang.CengkeramanLekra terhadap gandrung mengharus‐kankesenianini untukselalumelantun‐kansecararutinlagu‐laguyangdiklaimsebagai“cirikhas”nyasepertilagu“Gen‐jer‐genjer”.Justru karena itulah, gandrung di‐identifikasidengan Lekrayang komunisdansejakperistiwa1965terkenalarang‐an pentas, bahkan lagu‐lagu yang biasadidendangkannya tidak boleh dikuman‐dangkan,dantariannyapunmenjaditer‐larang.Hampirtujuhtahunsejakperisti‐watersebutpentasgandrungtidakterli‐hat di Banyuwangi. Para seniman gan‐drungyangdikategori komunisdibunuhatau menjadi tahanan politik dan mere‐kayangbukankomunistidakberanime‐mentaskannya. Seluruh warga masyara‐katBanyuwangiketakutanuntukme‐mentaskan kesenian ini karena cap ko‐munis. RevitalisasiSastradanBudGandrungmunculkembalipadada‐sawarsa tahun ’70‐an, bersamaan de‐ngandimulainyaproyekRevitalisasi Ke‐budayaanDaeraholehDepartemenPen‐didikandanKebudayaan,sebuahproyekyangdirancangdandikerjakansecarasistematis dalam bentuk penelitian,penggalian, inventarisasi, dokumentasi,pembinaan,pelatihan,dansertifikasiter‐hadapsetiapkeseniandaerahdalamke‐rangaya... etnik melalui ek si k ian se‐pertigandrungFatrah Abal dan HasnanSingodimayan keduanya budayawanBanyuwangi menceritakan bahwaDjoko Supaat Slamet memberikan pelu‐angbagiseniman‐senimanLekraBanyu‐wangi seperti Andang CY budayawandanpencipta lagu, SlametMenur, danEndroWilisyangmasihhidupdanmen‐dorongmerekauntuktetapberkaryadengancatatantidakmenyebarkanpa‐ham komunisme. Baik Andang, Slametkoreografer, Endro Wilis pencipta la‐gumaupunBasyirpenciptalagusam‐paikinimasihberkaryasenidandiakuiolehpublikdiBanyuwangitanpa diskri‐minasi. Bahkan Slamet pada akhir 2004berhasil mereproduksi lagu‐lagu yangpada60‐an diklaim sebagaikarya Lekradan sajak tahun 1965 tidak dikuman‐dangkansepertiAngklungSorenCepMenengo,Rantag,Emasemas,Sekolah,danPadhaNginangciptaanMoch.AriefdanEndrNoviAnoegrajekti189kapemantapanintegrasidansta‐bilisasipolitik dan Samsul Hadi 2000—2005,berperansangatpenting dalam menghi‐dupkankembaligandrung dan kesenianUsinglainyangtampakmulairedupolehberbagaifaktor, antara lain desakan do‐minasi budaya tertentu dan modernitastermasuk budaya pop yang merambahBanyuwangi.TerutamaSamsulHadi,bu‐pati 2000—2005, menjadi agen palingpentingdalammerepresentasikanUsingditengah‐tengah pergaulan kebudayaandan spre esen.o Wilis, keduanya seniman ang‐klungkelompokLekra.Selainpertunjukangandrung,syair‐syair Banyuwangi juga berkembang le‐wat kesenian angklung sejak tahun1940‐an. Melalui grup Angklung SriMudadangrupangklungyanglain,tem‐bang‐tembang Banyuwangenmulai po‐puler.Kemunculangrupmusikangklungmulaimarakdan hampir terdapatdise‐luruh desa di Banyuwangi. MenurutAndangCY,“DuluSriMudaitusangatdi‐gemarimasyarakat.Hampirdisetiapde‐saada.Nah,darisitulagu‐laguditampil‐kanmelaluisenisuaradansenitari.”Peristiwatahun1965dankebijakanpolitikOrdeBaruterhadapkesenianrak‐yat rupanya berimplikasi sangat luas dikalangan masyarakat hingga di lapisanpalingbawah.FatrahAbal,Hasan Basri,dan Hasnan Singodimayan melukiskanbahwasejakperistiwa yang menggeger‐kanituseluruhmasyarakatBanyuwangitidak mau mementaskan gandrung danmendendangkan lagu‐lagu Banyuwangen dengan berbagai alasan. Di antaraalasan tersebut adalah ketakutan danmenganggap bahwa kesenian maupunlagu‐lagu itu adalah komunis, meskipunsebelumnyamerekamenjadipenggemardanpenontonsetianya.Itulahsebabnyamengapa Fatrah Abal bersikukuh mere‐kam lagu‐lagu ciptaannya dengan iring‐anorkesmelayudanmeragukanimbau‐an Supaat untuk mempergunakan ang‐klungsebagaipengiringnya.Dorongan dan kebijakan politik lo‐kal Djoko Supaat Slamet membangkit‐kankesenian Banyuwangenmemangsa‐ngat penting dalam sejarah gandrunghingga digemari kembali oleh masyara‐kat Banyuwangen, tetapi beberapa ke‐cenderungan sosial dan politik baru didaerah itu juga ikut menentukan peru‐bahan tersebut. Dari kasus‐kasus mikroterlihat, seperti dituturkan Hasan Basri,seorang Guru SMPN 1 Banyuwangi, ATAVISME,Vol.16,N ,EdisiDe ber201bahwa rekaman lagu‐lagu kendangkempulo.2 sem 3183—1 19093LagudalamSeniPertunjukandanIndustriKreatifRevitalisasiHibridPotts & Cunningham 2008 menawar‐kanempatmodelterkaitsistemdanme‐kanismeindustrikreatif.Pertama,modelkesejahteraanmerupakanjejaringpeng‐gerak pada sektor ekonomi, meskipunmembutuhkanbiayabesar,yangmampumemberikankontribusi menyeluruh ba‐gipeningkatankesejahteraansecarapo‐sitif. Dengan model ini, industri kreatifmelibatkan proses produksi komoditasdengan nilai kultural tinggi, namunmenghasilkannilaipasarrendahataubi‐sa kurang menguntungkan. Untuk bisamemastikankesejahteraandalamkondi‐si demikian, dibutuhkan kebijakan ne‐garayangdipusatkankepadapengaloka‐sian kembali pendapatan dan sumberdayaataupengendalianhargaagarbisamelindungi aset kultural berharga. Ke‐dua,modelkompetisi mengabaikannilaikulturaldariprodukyangdihasilkanin‐dustrikreatifkarenamerekapadadasar‐nya hanya “industri” yang membutuh‐kan kompetisi dan pasarlah yang me‐nentukan baik‐buruknya. Segala keun‐tunganyangbisameningkatkankesejah‐teraan para kreator atau seniman/watidiperoleh dari kompetisi pasar. Ketiga,model pertumbuhan mengidealisasi re‐lasiekonomipositifantarapertumbuhansektorindustrikreatifdansektorekono‐misecara umum.Artinya, industrikrea‐tif mampu memperkenalkan ide‐ide ba‐ruyang bisa mempengaruhisektor‐sek‐torlainatauindustrikreatifbisamemfa‐silitasiprosesadopsidanpenguatanideatausertateknologibarudisektorlain.Keempat,modelinovasimengasumsikanindustrikreatifmampumemunculkandanmengkoordinasikanperubahaneko‐nomiberbasis pengetahuan. Signifikansiindustri kreatif bukanlah pada kontri‐busirelatifterhadapnilaiekonomi,teta‐pikontribusimerekabagikoordinasiideatauteknologibaru,sehinggaikutpulamempengaruhiprosesperubahan.Keha‐diran rnet, misalnya, mdi Genteng yang memadukanirama gandrung dan kasidah,menonjolkan lirik‐lirik bahasa agamaIslam, dan mempergunakan bahasaUsing membuat orang Banyuwangibersedia menerima kembali lagu‐laguBanyuwangi.Hal itu diperkuat oleh Golkarisasiyangsaatitumerasuksampaipedesaan.GolkarisasidiBanyuwangidanmungkinjugadidaerahlain,sangatmemengaruhiorang Banyuwangi dalam mempertim‐bangkan banyak hal dari sudut agamaataudengankatalainmengurangikon‐sentrasi berpikir tentang purifikasi danortodoksiagama Islam. “Golkarisasidisini berarti sekularisasi dan memenga‐ruhi semua aspek keberagamaan orangBanyuwangi,”jelas HasanBasri. Dengandemikian,jikawaktuituorangBanyu‐wangimenolak lagu‐lagu Using yangdi‐klaim sebagai komunis hanya karenabertentangandengan agama, makaketi‐ka konsentrasi tentang purifikasi pudar,orang Banyuwangi menerima kembalilagu‐ Using dan tidak memperten‐tang adenganagama.lagukanny inte enghadirkanbanyakperubahanmodel Banyuwangen kontemporertahun 2000‐an mengkaji strategi paramusisi Banyuwangi dalam mengemaskekayaan lagu daerah dengan nuansamusik modern sehingga menghasilkanprodukbernuansahibrid.Hampirsemualagu dalam pertunjukan Gandrung da‐lam versi apapun disco, dangdut, danremixbanyakdijualdikios‐kioskaset.Disampingitu,lagu‐lagugandrungjugater‐sedia lagu‐lagu JangerJinggoan,Kuntulan,danAngklung.Sampaisaatini,lebih dari sepuluh perusahaan rekamantelahberoperasidiBanyuwangi,sepertiAnekaSafariRecord,SandiRecord,KatulistiwaRecord, ScorpioRecord, danGemini Record. Hampir pasti RevitalisasiSastradanBudperu e duk‐silag aya...asi modernitas masyarakat anyu‐wangi.Aspek penciptaan menjadi sangatpentingdalamindustrikreatif,untuk ituada beberapa model dalam pengem‐bangannya, pertama, menekankan padarevitalisasi tradisi lokal yang menjadiinspirasi penciptaan lagu‐lagu yangmengambil dari syair‐syair klasik ritualseblangdan gandrung; kedua, memadu‐kanlagu‐lagudalam keseniantradiside‐ngan pertunjukannya, seperti gandrung,jinggoan,danangklung, dan ketigalebihmenekankan pada eksplorasi keinginanpasardengantetapmentransformasike‐lokalan. Beberapa model ini diharapkanmampu menjadi dasar berkembangnyaekonomi kreatif bagi penggiat seni danmasyarakatBanyuwangi.NoviAnoegrajekti191sahaankasettersebut m mprou‐lagu tradisiBanyuwangi.Musik dengan lagu‐lagu disco, kendangkempul,danpatrollebihbanyakdi‐terima banyak kalangan. Menurut pe‐ngakuan Ahmad Ahyani, sekitar tahun2000,diameramu musik tradisidenganwarna musik yang lain. Dalam albumKangenBanyuwangi,DiscoEthnic2000GandrungTemumenyanyikanlaguyangberjudul“OjoCilikAti”dalamversidisco.“Inibagiandarimenciptakanselerapasar,” ungkapnya. Di luar dugaan, al‐bum tersebut mendapat sambutan luarbiasa dari masyarakat. Dalam sebulan kaset yang diproduksi terjualQomariah,2008108.BahkanbeberapalaguyangdiedarkanolehAnekaSafarihingga pertengahan tahun 2005 seperti“Layangan”, “Tetese Eluh”, “Semebyar”,dan“TelongSegoro”mampumenembusangka masih tetap berlangsung. Halinimenunjukkan peredaranyang cukupfantastis untuk ukuran album yangdiedarkanditingkatlokaltanpapromosibesar‐ Rekaman dalam format ca‐kram digital CD, di satu sisi, menjadimedium baru bagi para musisi untukmasuk ke dalam dalam jagat industrimodern. Di sisi lain, format tersebutmenjadi siasat para musisi Banyuwangiuntuk terus menegosiasikan budaya lo‐kalBanyuwangi di tengah‐tengahtrans‐form BSIMPULANSyair‐syair dalam seni pertunjukan tra‐disidannilai‐nilaisimboliknyadiperjual‐belikandipasarmeleburdalamkomodi‐fikasisimbolikkekuasaan.Sifatidentitasyang constructeddan kontekstual me‐nyebabkan representasi identitas tidakpernahtunggaldanstatis.Haliniterbacadalam syair‐syair dalam pertunjukanGandrung, Angklung, dan Jinggoan.Identitas Using yang ditegakkan dengankonservasitradisidalamsetiappertun‐jukan akhirnya lebih berbentuk proyekpolitik yang diciptakan dalam kontekspergulatanpolitikdanekonomidiBanyuwangi. Dalam berbagai ekspresilintasbudaya,perebutankepentinganlo‐kal, nasional, dan global berkontestasidan terus saling berinteraksi secara di‐namis untuk diartikulasikan sebagai ge‐rak kebudayaan. Lagu “Pada Nonton”,“Sekar Jenang”, yang wajib dibawakansaatJejerGandrungtiba‐tibamengalamireproduksi makna ketika lagu tersebutmulai direkam, dipasarkan, dan diper‐dengarkan setiap saat. Sebagai sebuahproduk,budayabarumerupakanbentukperpaduan dan harmonisasi yang dicip‐takanmelaluikebijakan pemerintah dankapitaldalammempertemukanmodern‐itas danlokalitas dalamruang negosiasiyangterus‐menerus.1. Artikel ini disunting dari makalah yang ber‐judul“SastraLokaldanIndustriKreatifRevi‐talisasiSastradanBudayaUsingBerbasisLo‐kalitas” yang saya presentasikan pada “Se‐minar Nasional Bahasa dan Sastra” tanggal ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember2013183—19319212—13September 2012, di Badan Pengem‐bangan dan Pembinaan Bahasa, Kementeri‐anPendidikandanKebudayaan.2. Proyek‐proyekpariwisatadisetiapdaerahdiIndonesia selalu berkaitan dengan alam, et‐nik, dan kebudayaan. Selanjutnya lihat, an‐taralain Logman, 1994; ValeneSmith,”Introduction”, dalam Valene I Smithed. HostandGuestsTheAnthropologyofTourism USA Universitas of Pennsylvaniapress,1977.3. Dengan tekanannya pada penonjolan Using,proyekinimendapatbanyakkritikdanmen‐jadibagiandaripertarunganpolitikdiBanyuwangi.Proyekinidipandangterlalumemihak pada salah satu etnis Using yangberartitidaksesuaidenganpluralitasetnisdiBanyuwangi.4. Selanjutnyalihat,makalah“PatungGandrungdanUlarBerkepalaGatotKacaMitos,Pem‐bongkaran Tanda, dan Representasi Identi‐tas Using,” dalam Prosiding Seminar Nasio‐nal Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan,Depok Departemen Linguistik FIBUniversitas Indonesia, 30 Mei 2012, hal.295.5. Selanjutnya lihat “Upaya Pelestarian Keseni‐anGandrungBanyuwangidieraGlobalisasi”,makalah oleh Tim Yayasan KebudayaanBa‐nyuwangi, disampaikan pada Seminar HaribJadi dan Ke udayaan Banyuwangi, ProspeksertaPengembangannya,21April1994.6. Selanjutnya lihat Novi Anoegrajekti “Keseni‐an Using Resistensi Budaya Komnitas Ping‐igir” dalam Keb jakan Kebudayaan, JakartaPMBLIPI,2001.7. Tenaga kreatif yang terlibat dalam prosesproduksi dan distribusi sekitar 15 orang te‐naga tetap, sementara yang freelanceArieSandi tidak mencatatnya, karena silih ber‐ganti datang dan pergi, khususnya yang ter‐libatdalamaransemen musik. Data tersebutbelum yang termasuk jumlah mereka yangbekerjadiAnekaSafariRecorddanKhatulistiwaRecord.Datatersebutmenun‐jukkan bahwa industri kreatif musik di Ba‐nyuwangi mempunyai potensi untuk meng‐gerakkan ekonomi kreatif karena mampumenyerap tenaga kerja dan bisa menum‐buhkan modal lokal. Selanjutnya lihat, AgusSariono, dkk. “Rancak Tradisi dalam GerakIndustri Pemberdayaan Kesenian Tradisi‐Lokaldalam Perspektif Industri Kreatif”, La‐poran Penelitian Jember UniversitasJember,2009,hlm.131.8. Selanjutnya lihat, “Banyuwangi Bernyanyiendiri,” Rubrik Kehidupan, Kompas, 13ebruari2005.SFDAFTARPUS AKAAnoegrajekti, Novi. 2001. “KesenianUsing Resistensi Budaya Komuni‐tas Pinggir” dalam KebijakanKebuTdayaandiMasaOrdeBaru. JakartaPMB‐LIPI.‐‐‐‐‐‐‐‐. 2007. “Patung itu Bukan Penari,”dalam PenariGandrungdanGerakSosialBanyuwangi. Jurnal Srinthil.MediaPerempuanMultikulturalNo.12.DepokDesantara.‐‐‐‐‐‐‐‐. 2010. “Tradisi Basanan danWangsalanWarungBathokanEdu‐kasidanIdentitasMasyarakatUsing,” dalam WacanaAkademika.Majalah Ilmiah Kependidikan Univ.Sarjanawiyata Tamansiswa. Vol. 3,No.8,Juli2010.‐‐‐‐‐‐‐‐.2013.“PatungGandrungdanUlarBerkepala Gatot Kaca Mitos, Pem‐bongkaranTanda,danRepresentasiIdentitas Using,” Makalah dalamProsiding Seminar NasionalSemiotik,Pragmatik,danKebudayaan.De‐ Linguistik FIB esia.pok DepartemenUniversitas IndonBarker, Chris. 2000. CulturalStudiesTheoryandPractice. London SagePublications.Budianta, Melani. 2008. “Aspek LintasBudaya dalam Wacana Multikultu‐ral,” dalam KajianWacanadalamdanKonteksMultikultural Multidisiplin.JakartaFIBUI.Hall,Stuart. 1993. “CulturalIdentity andDiaspora,” dalam Patrick Williamsand Laura Chrisman eds. Colonial/DiscourseandPostcolonialTheory.NewYorkHarvester Wheatsheaf.‐‐‐‐‐‐‐‐. 1997. “The Work of Representa‐tion”dalamRepresentationCulturalRepresentationsandSignifyingPractices.LondonSagePublication. RevitalisasiSastradanBudPotts,Jason &StuartCunningham.2008.“Fourmodels of the creative indus‐rnationalJournalofubmittedaya...Singodimayan, Hasnan, et al.2003. GanyBanyuwangiNoviAnoegrajekti193tries”,dalamInteCulturalPolicy.SPrimorac,Jaka.2005.ThePositionofCulturalWorkersinCreativeIndustriesSoutheasternPerspectives.ZagrebEuropeanCulturalFoundation.Richardson,Diane.“LocatingSexualities o ty”,dalamJur‐FromHere toN rmalinalSexualities,Vol74,2004.Saputra, Heru. 2011. FolklorUsingBanyuwangi.JemberFakultasSas‐traUniversitasJember.Sariono, Agus, et al. 2009. “Rancak Tra‐disi dalam Gerak Industri Pember‐dayaan Kesenian Tradisi‐Lokal da‐lamPerspektifIndustri Kreatif”. La‐.poran Penelitian. Jember Universi‐tasJember Singodimayan, Hasnan. 1990. “WarungBathokan Sisi Lain Tradisi Masya‐rakatOsing”dalamSurya,3Novem‐ber.drungBan uwangi.DewanKesenianBlambangan.Spradley, James P. 1997. MetodeEtnografi.YogyakartaTiaraWacana.Tim Yayasan Kebudayaan Banyuwangi.1994. “Upaya Pelestarian KesenianGandrungBanyuwangidieraGlo‐balisasi,” makalah disampaikan pa‐daSeminarHariJadidanKebudaya‐nanBanyuwagi,ProspeksertaPengembangannya,21April1994.Tomic‐Koludrovic, Inga & Mirko Petric.2005. “Creative Industries in Tran‐sitionTowardaCreativeEconomy,”dalam Nada Svob‐Dokic ed.. TheEmergingofCreativeIndustriesinEuropeSoutheastern. ZagrebInstituteforInternationalRelations.Qomariyah, Nunung. 2008. “Industriali‐sasiRekamandanNasibSenimanTradisi,”dalamEtnografiGandrungPertarunganIdentitas. Depok De‐santara. ... Oral tradition is one of the main objects that can be developed to produce creative products. The creative industry is intended as a system and economic practice based on knowledge and creativity [10]. Therefore, YouTube and Instagram social media were chosen for this study. ...This study aims to understand and explore the enduring values in the Using ethnic literature at the eastern end of Java, especially in the context of ritual discourse. By applying an ethnographic approach, especially the emic perspective, data were collected using participatory observation and in-depth interview techniques. Participatory observations were made of the Seblang Olehsari and Seblang Bakungan ritual processions, while in-depth interviews were conducted with 10 informants. Data were analyzed using orality and liminality techniques, and then cultural interpretations were carried out to obtain the meaning of locality values in the context of modern society. The results show three important dimensions dimension of excellence, liminality, and locality, which reflected the cultural ideology of safety in the union of microcosms and macrocosms. Thus, the existence of the values of local wisdom in the Using ethnic literature is still relevant in today's social life so that it is still functioning until now in the context of modern society. The dominant element of Using ethnic literature is the formation of traditional social institutions that lead to social safety and harmony, both in vertical microcosms and horizontal relationships macrocosms,a combination of the three SungkowatiAbstrakPenelitian ini bertujuan membahas bagaimana alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” dan perubahan yang terjadi dalam alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” menjadi produk industri kreatif. Teori yang digunakan adalah alih wahana dan sastra bandingan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, baik cetak maupun digital. Penelitian dilakukan selama enam bulan April—September 2021 di Surabaya. Analisis data dilakukan dengan metode perbandingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” menjadi kerajinan berupa patung dan miniatur patung masih mempertahankan tokoh dan tema utama perkelahian Sura dan Baya. Alih wahana dalam bentuk desain batik, kaos, dan berbagai merchandise lainnya masih mempertahankan tokoh utama Ikan Sura dan Baya, namun dengan perubahan-perubahan pada tema, tidak lagi hanya tentang perkelahian tetapi juga persaudaraan. Perubahan paling banyak terjadi pada alih wahana menjadi sinematografi dalam film animasi Grammar Suroboyo dan Culoboyo. Kata kunci sastra, industri kreatif, alih wahana, sastra bandingan AbstractThis study aims to discuss how is the transformation of story “The Origin of Surabaya” and the changes in transformation of folktale “The Origin of Surabaya” into creative industry products. It uses transformation and comparative literary theory. The collection of data is done by observation, interview, and dokumentation study, both print and digital. This research is conducted during six months April-September 2021 in Surabaya. Data analysis was carried out by comparison method. The results show that transformation of folktale “The Origin of Surabaya” into crafts in the form of sculpture and miniature statues still maintain character and main theme of Sura and Baya fight. Transformation in the form of batik design, shirt, and other merchandises still maintain main character Sura fish and Baya, but with many changes to a theme, no longer just about fighting but also brotherhood. The most changes occured in the transformation into chinematography in animated Grammar Suroboyo and Culoboyo. Keywords literature, creative industry, transformation, comparative literary theoryDalam perkembangan media, terutama maraknya penggunaan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Youtube, banyak masyarakat Using yang memanfaatkan media sosial tersebut untuk mengungkapkan isi hati dengan menggunakan basanan. Makna yang penting dari dinamika peradaban ini bagi masyarakat Using, bahwa kelisanan primer kini telah memasuki kelisanan sekunder atau kelisanan berbasis digital. Hal ini menjadi cerminan dinamika kebudayaan study aims to discuss the lyrics of the Basanan song by Nurdian, sung by Catur Arum and posted on the Youtube channel, interprets the Using Banyuwangi culture in the context of secondary orality. This study uses a qualitative method with an oral approach to analyze the formula and oral characteristics in the text of the Basanan song. The results showed that the text of the Basanan song contained the tautotes repetition formula, mesodiplosis repetition formula, anaphora repetition formula, and showed formulaic expressions. The language characteristics in the Basanan text are the characteristics of spoken language because they are additive and aggregative. The substance of the text of the Basanan song reflects the cultural condition of the Using community. In the development of media, many Using people use social media to express artistic expression and for financial gain. The significance of the dynamics of civilization for the Using people is that the primary oral language has now entered the secondary oral language and has become a popular cultural product for the Using people, Banyuwangi, reflecting the dynamics of their civilization. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang lirik lagu Basanan karya Nurdian yang dinyanyikan Catur Arum dan diposting di kanal Youtube memaknai budaya Using Banyuwangi dalam konteks kelisanan sekunder. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lisan untuk menganalisis rumus dan ciri lisan dalam teks lagu Basanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks lagu Basanan mengandung rumus pengulangan tautotes, rumus pengulangan mesodiplosis, rumus pengulangan anafora, dan menunjukkan ekspresi rumus. Ciri kebahasaan dalam teks Basanan merupakan ciri bahasa lisan karena bersifat aditif dan agregatif. Substansi teks lagu Basanan mencerminkan kondisi budaya masyarakat Using. Dalam perkembangan media, banyak orang Using menggunakan media sosial untuk mengekspresikan ekspresi seni dan untuk keuntungan finansial. Arti penting dinamika peradaban bagi masyarakat Using adalah bahwa bahasa lisan primer kini telah memasuki bahasa lisan sekunder dan menjadi produk budaya populer bagi masyarakat Using, Banyuwangi, yang mencerminkan dinamika HALLA new cinema of the Caribbean is emerging, joining the company of the other 'Third Cinemas'. It is related to, but different from the vibrant film and other forms of visual representation of the Afro-Caribbean and Asian 'blacks' of the diasporas of the West - the new post-colonial subjects. All these cultural practices and forms of representation have the black subject at their centre, putting the issue of cultural identity in question. Who is this emergent, new subject of the cinema? From where does he/she speak? Practices of representation always implicate the positions from which we speak or write - the positions of enunciation. What recent theories of enunciation suggest is that, though we speak, so to say 'in our own name', of ourselves and from our own experience, nevertheless who speaks, and the subject who is spoken of, are never identical, never exactly in the same place. Identity is not as transparent or unproblematic as we think. Perhaps instead of thinking of identity as an already accomplished fact, which the new cultural practices then represent, we should think, instead, of identity as a 'production', which is never complete, always in process, and always constituted within, not outside, representation. This view problematises the very authority and authenticity to which the term, 'cultural identity', lays claim. We seek, here, to open a dialogue, an investigation, on the subject of cultural identity and representation. Of course, the 'I' who writes here must also be thought of as, itself, 'enunciated'. We all write and speak from a particular place and time, from a history and a culture which is specific. What we say is always 'in context', positioned. IKesenian Using Resistensi Budaya Komnitas Pingi girNovi SelanjutnyaAnoegrajektiSelanjutnya lihat Novi Anoegrajekti "Kesenian Using Resistensi Budaya Komnitas Pingi gir" dalam Keb jakan Kebudayaan, Jakarta PMB LIPI, 2001.Banyuwangi Bernyanyi endiriSelanjutnyaSelanjutnya lihat, "Banyuwangi Bernyanyi endiri," Rubrik Kehidupan, Kompas, 13 ebruari Penari Gandrung dan Gerak Sosial BanyuwangiNovi AnoegrajektiAnoegrajekti, Novi. 2001. "Kesenian Using Resistensi Budaya Komunitas Pinggir" dalam Kebijakan Kebu T dayaan di Masa Orde Baru. Jakarta PMB-LIPI. -. 2007. "Patung itu Bukan Penari," dalam Penari Gandrung dan Gerak Sosial Banyuwangi. Jurnal Srinthil. Media Perempuan Multikultural No. 12. Depok Desantara. -. 2010. "Tradisi Basanan dan Wangsalan Warung Bathokan Edukasi dan Identitas Masyarakat Using," dalam Wacana Akademika. Majalah Ilmiah Kependidikan Univ. Sarjanawiyata Tamansiswa. Vol. 3, No. 8, Juli 2010. -. 2013. "Patung Gandrung dan Ular Berkepala Gatot Kaca Mitos, Pembongkaran Tanda, dan Representasi Identitas Using," Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Semio tik, Pragmatik, dan Kebudayaan. De-Linguistik FIB esia. pok Departemen Universitas Indon Barker, Chris. 2000. Cultural Studies Theory and Practice. London Sage Lintas Budaya dalam Wacana MultikulturalMelani BudiantaBudianta, Melani. 2008. "Aspek Lintas Budaya dalam Wacana Multikultural," dalam Kajian Wacana dalam dan Konteks Multikultural Multidi siplin. Jakarta FIB UI.
Jika inovasi merupakan hal penting untuk pertumbuhan perusahaan, maka satu hal yang sangat penting untuk dikembangkan adalah budaya perusahaan yang kreatif. Tidak peduli ukuran perusahaan, industri atau anggaran, perubahan lingkungan dan perilaku tertentu dapat meningkatkan hasil kreatif tim perusahaan Anda. Yang selanjutnya akan menarik bakat yang tepat dan membawa kemajuan perusahaan melebihi perkiraan Anda. Berikut adalah 10 cara untuk mengubah budaya perusahaan menjadi lebih kreatif 1. Membangun tempat kerja yang menginspirasi. Semuanya dimulai dengan tempat kerja. Tempat kerja memengaruhi produktivitas kerja. Pada zaman modern seperti saat ini, perusahaan harus bergerak cepat dan berinovasi terus-menerus. Dan ini tidak akan terjadi jika masih menggunakan warna model lama yang membosankan dan pencahayaan di ruang kantor yang kurang baik. Ruang besar dan terbuka, ruang tamu yang nyaman, jendela besar, dapur dan fasilitas nyaman seperti kamar mandi dan parkir kendaraan. Hal-hal tersebut dapat Anda jadikan gambaran untuk membuat tempat kerja yang baik. 2. Jam kerja yang fleksibel. Meskipun jam kerja yang konsisten dibutuhkan suatu organisasi, terkadang pikiran kreatif tidak bisa muncul pada jam 0800-1600. Tiap ornag memiliki ritme berbeda yang membuat mereka lebih atau kurang produktif pada jam-jam tertentu. Bagi sebagian orang, ide-ide terbaik datang di tengah malam atau selama makan siang panjang ketika pikiran santai. Dalam dunia teknologi, misalnya, biasa bagi para pengembang untuk lebih produktif ketika kondisi lebih tenang disaat menjelang malam. Jadi mereka mungkin memilih untuk tidur di siang hari dan bekerja dengan baik di kesunyian malam. 3. Buatlah hari libur. Salah satu cara paling tepat untuk menemukan inspirasi adalah beristirahat dari pekerjaan. Inspirasi lebih mungkin datang ketika orang bebas dari rutinitas sehari-hari. Pikirkan tentang berapa kali Anda memiliki ide cemerlang selama di pesawat atau naik kereta api. Ada nilai yang luar biasa dengan hanya mengambil satu atau dua hari libur untuk beristirahat di rumah, dapat juga dengan berjalan melewati lingkungan baru di kota Anda. 4. Membangun sebuah tim yang beragam. Banyak pemilik bisnis kreatif sering mengeluh bahwa mereka memiliki kesulitan dengan staf yang beragam. Mungkin mereka berusaha untuk menemukan replika dari diri mereka sendiri. Mereka keliru menganggap bahwa bisa menemukan “kembaran” profesional yang bisa memajukan bisnis mereka dalam semalam. Sebaliknya, bangunlah tim yang beragam dengan kekuatan terletak pada pengalaman kerja anggotanya, pendidikan dan latar belakang budaya perusahaan yang berbeda satu sama lain. 5. Utamakan tim. Untuk memiliki budaya perusahaan yang benar-benar kreatif, staf Anda harus menjadi prioritas terbesar. Meskipun Anda mungkin berpikir bahwa pelanggan harus selalu diutamakan, ambil contoh dari CEO hebat seperti Virgin Group Richard Branson dan Zappos Tony Hsieh, yang telah membuktikan bahwa mengutamakan tim membuat pelanggan dan bahkan pemegang saham bahagia. 6. Hargai pengambilan risiko. Sekarang Anda telah menciptakan waktu dan ruang untuk kreativitas, lebih lanjut lagi, beri penghargaan pada setiap pengambilan risiko. Pikirkan perusahaan yang menginspirasi Anda Berapa banyak dari mereka mencapai sukses dengan mengikuti tradisi dan berpegang teguh pada aturan? Membangun perusahaan sendiri adalah risiko yang sangat besar. Jadi mengapa tidak bekerja dengan orang-orang yang dapat mengambil risiko untuk lebih dekat dengan visi Anda? Perusahaan seperti Google, mengamanatkan para karyawan untuk mendedikasikan jam kerja mereka mengembangkan proyek-proyek mereka sendiri, sehingga mendorong perilaku pengambilan risiko dalam lingkungan yang terkendali. 7. Menekan “perselisihan”. Tidak selamanya perselisihan itu buruk, terutama untuk berbagi ide. Anda tidak perlu melakukan perang internal kantor atau membuat perselisihan psikologis. Tidak, perselisihan antara profesional akan memunculkan perdebatan dan perdebatan dapat membuat ide-ide besar muncul. 8. Cobalah pemecahan masalah secara kelompok. Pada bisnis kecil, setiap karyawan harus membantu satu sama lain untuk menyelesaikan proyek-proyek besar. Seseorang dari tim desain mungkin harus bekerja dengan seseorang dari pemasaran. Ciptakan situasi di mana orang-orang dengan keahlian yang sangat berbeda dan perspektif berbeda harus bekerja sama, hal tersebut dapat merangsang timbulnya kreativitas terbaik. 9. Mengarahkan dengan baik. Biarkan orang menyuarakan apa yang mereka rasakan. Dorong anggota tim Anda untuk berbicara secara terbuka daripada selalu mendorong untuk menjadi orang “baik” apalagi jika mereka mulai saling menyerang. Ciptakan budaya perusahaan dimana karyawan mengajukan pertanyaan keras satu sama lain tanpa defensif. Hal ini memastikan bahwa orang tidak gampang puas dan terus berpikir ketika berbicara tentang masalah yang paling relevan dan mengajukan pertanyaan cerdas. 10. Otonomi dan tanggung jawab. Di sebuah perusahaan kecil dengan visi besar, bahkan karyawan yang paling junior menanggung banyak tanggung jawab. Beri orang tanggung jawab untuk suatu harapan yang besar ditambah memberi mereka otonomi untuk membuat keputusan sendiri dengan bimbingan seminimal mungkin. Hal ini menciptakan suasana yang sangat mendukung kreativitas. Jika Anda bisa menjadi pemimpin yang menyenangkan bagi karyawan, dan bisa menciptakan suasana kerja yang kreatif, budaya perusahaan yang luar biasa pun akan tercipta. Pastikan karyawan Anda senang bekerja dan bisa menuangkan ide kreatifnya. Satu hal lagi yang penting, Anda harus tahu manajemen tim yang baik, agar bisa mengurangi tekanan tanggung jawab besar pada karyawan. Sehingga setiap karyawan punya beban pekerjaan sesuai dengan kemampuan.
shfrh shfrh Dengan cara menggabungkan keduanya namu n tetap mengaitkan kandungan unsurnya satu sama lain , contoh tari tradisional yg diubah menjadi tari tradisional modern makasih kakakkk Be yourself and never surrender terimakasiihh kakak cantik terimakasiihh kakak cantik smoga amalnya d catat oleh allah amiinn
shfrh Dengan cara menggabungkan keduanya namu n tetap mengaitkan kandungan unsurnya satu sama lain , contoh tari tradisional yg diubah menjadi tari tradisional modern 31 votes Thanks 48 Epirin terimakasiihh kakak cantik smoga amalnya d catat oleh allah amiinn Epirin terimakasiihh kakak cantik
bagaimana cara memadukan budaya lokal dengan industri kreatif